Tulisan Softskill 11 Perilaku Konsumen

KELAS SOSIAL DAN KELOMPOK STATUS

Menurut Weber, status sosial berbeda dengan kelas sosial sebagai prinsip mendasar mengenai stratifikasi sosial. Kelas sosial mengacu pada perbedaan secara ekonomis dan kesenjangan ekonomi. Sedangkan status sosial mengacu pada perbedaan yang menurut posisi individu di masyarakat dan penghormatan masyarakat kepada seseorang berdasarkan posisi sosialnya di masyarakat.

Hubungan-hubungan individu terkait dengan status sosial dapat dilihat dari situasi yang khusus. Status sosial ditentukan situasi khusus yang memungkinkan seseorang mendapat penghormatan atau penghargaan dari orang lain. Penghormatan tersebut bisa karena beberapa faktor misalnya, keturunan, agama, kharisma yang ia miliki, ketokohannya di masyarakat, dan lain sebagainya. Lain halnya pada kelas sosial yang lebih menekankan pada faktor ekonomi. Status sosial muncul pada masyarakat komunal di mana penghormatan terhadap orang lain berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas dianggap penting.

Durkheim melihat bahwa prestise dalam konsep penghormatan sosial pada masyarakat komunal sebagai sesuatu yang “keramat/suci” dalam kehidupan sosial. Sehingga agama dalam masyarakat tersebut dipahami sebagai tatanan moral dan nilai yang menyediakan kerangka kultural dalam kehidupan. Agama menjadi sumber makna sosial yang menentukan gaya kehidupan masyarakat dan dapat “merendahkan” yang satu dan “meninggikan” yang lain.

Sementara Weber melihat kelas sosial sebagai faktor yang beroperasi pada setiap individu di dalam masyarakat. Kelas sosial dan status sosial menentukan bentuk-bentuk khusus stratifikasi sosial yang memperlihatkan elemennya masing-masing.

PEMILIKAN

Pemilikan status sosial di masyarakat sangat di harapkan bagi sebagian besar masyarakat untuk bisa menaikan tingkat kelas sosial yang ada. Tidak dipungkiri bahwa status sosial sangatlah diperlukan individu untuk dapat bergaul di masyarakat luas tanpa merasa rendah kelas sosialnya.

DINAMIKA KELAS SOSIAL

Berbagai bentuk kelompok sosial menjadi bukti betapa urgent manusia berkelompok untuk saling memenuhi kebutuhan hidup. Ada macam-macam latar belakang manusia membentuk kelompok sosialnya. Latar belakang ini juga menentukan bentuk kelompok sosial serta pola dinamika didalamnya. Diantara bentuk kelompok sosial itu seperti Ghemeinschaft dan Gesellschaft. Dua bentuk kelompok sosial yang digagas oleh Ferdinand Tonnies.
Ghemeinschaft adalah bentuk kelompok sosial yang dilandasi kekeluargaan antar anggota yang erat serta hubungan yang intim. Ghemeinschaft sendiri memiliki variabel. Diantara variabel itu seperti ghemeinschaft by blood, by place, by mind. Jika kita observasi, masyarakat disekitar kita adalah contoh real dari tipologi ini. Skalanya bermacam-macam. Tidak hanya yang memiliki lingkup luas, namun juga sempit.
Diawali dengan interaksi antar individu, sebuah kompleks perumahan dimana terdapat banyak kepala keluarga tinggal akan sendirinya membentuk kelompok sosial yang semakin kuat dan intens. Sangat mungkin dari kelompok sosial yang sudah terbentuk tersebut akan membentuk sub-sub kelompok sosial lain atau organisasi yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan anggota masyarakat.
Dinamika yang sehat dalam kehidupan bermasyarakat khususnya di dalam kelompok sosial, tergantung bagaimana nilai dan norma sosial serta kontrol sosial di dalam kelompok mampu dipertahankan dan dikendalikan. Setiap kelompok sosial pasti memiliki nilai dan norma yang berlaku. Karena adanya nilai dan norma tersebut maka dibutuhkan kontrol terhadap pelaksanaannya.

SOCIAL MOBILITY DAN KONSEKUENSINYA TERHADAP MARKET

Social Mobility adalah suatu gerakan dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengaur organisasi suatu kelompok sosial.
Tipe gerak sosial yaitu:
Gerak sosial vertikal,  merupakan suatu perpindahan individu atau objek dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan lainnya yang tidak sederajat. Gerak social vertikal sesuai dengan arahnya dibedakan menjadi dua :
·         Gerak social vertical naik. Terdapat dua bentuk utama yaitu: (1) Masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi (2) Pembentukan suatu kelompok baru, yang kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari kedudukan individu-individu pembentuk kelompok tersebut.
·         Gerak social vertical turun. Terdapat dua bentuk utama diantaranya: (1) Turunnya kedudukan individu  ke kedudukan yang lebih rendah derajatnya (2) Turunnya derajat kelompok individu yang dapat berupa disintegrasi kelompok sebagai suatu kesatuan.
Gerak sosial horizontal, merupakan suatu perpindaha individu atau objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan lainya yang sederajat.

KLASIFIKASI GEODEMOGRAFI DAN MANFAATNYA BAGI PEMASAR

Terdapat tiga karakteristik konsumen yang secara independen atau bersama-sama mempengaruhi konsumsi seseorang dan bagaimana mereka merespon komunikasi pemasaran, yaitu: karakteristik demografi, psikografi, dan geodemografi.
Geodemografi merupakan sebuah kombinasi dari karakteristik demografi dan gaya hidup konsumen dalam kelompok (cluster) geografis. Penetapan sasaran berdasarkan geodemografis: dasar pemikiran yang menjadi landasan geodemographic targeting adalah bahwa orang-orang yang menetap di daerah atau tempat yang sama, misalkan bertetangga atau dalam satu kawasan kode area, memiliki persamaan dalam demografi dan gaya hidup. Sehingga dengan mengetahui dimana orang-orang menetap, pemasar dapat memperoleh informasi mengenai marketplace behavior mereka secara umum.
PEMASARAN UNTUK PANGSA KELAS SOSIAL
Penentuan pangsa pasar
Kelas sosial kerap diterapkan pada masalah penentuan pangsa pasar, proses mendefinisikan kelompok pelanggan yang homogeny dan membuat tawaran uang kuat secara khusus untuk mereka. Prosedur untuk pemangsaan pasar mencakupi langkah-langkah berikut:
·         Identifikasi pemakaian kelas sosial dari produk
·         Perbandingan variable kelas sosial untuk pemangsaan dengan variable lain (seperti pendapatan, siklus hidup)
·         Deskripsi karakteristik kelas sosial yang diidentifikasi didalam target pasar.
·         Perkembangan program pemasaran untuk memaksimumkan efektifitas bauran pemasaran yang didasarkan pada konsistensi dengan sifat kelas sosial.
·         Pengenalan kebutuhan dan kriteria evaluasi. Sebagai seorang pamasar, sebelum melakukan proses promosi harus menyiapkan berbagai macam persiapan, didalam kasus ini persiapan yang harus kita lakukan adalah menggali informasi tentang kebutuhan dari pangsa pasar kelas sosial dengan melakukan setidaknya observasi tehadap pangsa pasar kelas sosial.
·         Proses pencarian. Perbedaan kelas sosial membedakan pula pola informasi tentang suatu produk yang didapat oleh masing-masing individu, kelas bawah yang berada didaerah lebih terpencil akan susah mendapatkan informasi tentang suatu barang yang beredar dipasaran sedangkan orang kelas menengah keatas lebih mudah mendapatkan informasi tersebut.

PENGENALAN KEBUTUHAN DAN KRITERIA EVALUASI

Coba bayangkan proses pengenalan kebutuhan yang terjadi sebelum anda membeli minuman kaleng ringan anda yang terakhir. Pengenalan kebutuhan yang terjadi pada kasus ini adalah ketika sebagai konsumen penikmat minuman kaleng tersebut. Minuman kaleng sangat praktis dibawa kemana saja dan terdapat dimana saja. Misalnya Fanta dengan bermacam – macam rasa sering dikonsumsi oleh para konsumen karena mudah dibawa. Rasa yang disediakan adalah rasa yang memberikan kesegaran jika diminum dingin. Misalnya rasa strawberry, apel, dan anggur. Pengenalan kebutuhan minuman kaleng fanta terjadi pada saat orang-orang mulai malas membawa minuman sendiri dari rumahnya. Selain itu, minuman kaleng tidak tumpah dan dapat tahan dingin lebih lama dibanding minuman botol plastik. Fanta sudah banyak dikenal konsumen lewat media televisi dengan memberikan visual gambar yang menarik. Saya mulai melihat dan mencoba minuman kaleng tersebut ketika iklan beredar di televisi.
Menurut Hasan (1988) evaluasi program semula merupakan evaluasi kurikulum. Karena itu cenderung tidak membedakan evaluasi program dengan evaluasi kurikulum. Sehubungan dengan pendapat tersebut, akan diuraikan hal-hal yang berhubungan dengan kriteria dalam mengadakan evaluasi.
Evaluasi harus berhubungan dengan kriteria. Dasar pemikiran tersebut, dengan criteria evaluator dapat memberikan pertimbangan nilai, harga, dan komponen-komponen program yang perlu penyempurnaan serta yang telah memenuhi persyaratan. Evaluator tanpa kriteria sama dengan bekerja dalam kegelapan. Tnpa adanya kriteria pertimbangan yang diberikan adalah tanpa dasar.
Kriteria evaluasi dikembangkan melalui model-model evaluasi yang digunakan. Empat kelompok pengembangan yang dapat dilakukan, yakni: “Pre-ordinate, fiedelity, Matual-adaptive, dan process”.
Pendekatan “Pre-ordinate” memiliki dua karakteristik; pertama kriteria ditetaokan sebelum pelaksanaan evaluasi. kriteria ini bersifat mengikat karena ditetapkan sebelum evaluator turun turun ke lapangan. Karekteristik kedua, kriteria yang dikembangkan bersumber pada standar tertentu. Seperti yang bersumber pada pandangan teoritik atau kumpulan tradisi yang sudah dianggap baik.
Pendekatan “Fidelity” pada dasarnya ada kesamaan prinsip dengan kedekatan “Pre-ordinate” yakni kriteria yang dikembangkan sebelum evaluator turun ke lapangan untuk mengumpulkan data. Perbedaaan prinsipil pada keduanya yaitu pada hakekat evalusi yang digunakan. Pendekatan Fidently tidak menggunakan criteria yang bersifat umum ( universal ) sebagaimana tuntutan pendekatan Pre-Ordinate.
Pendekatan ke tiga dikenal dengan istilah pendekatan gabungan mutual-adaptive.Pendekatan ini merupakan perpaduan antara pendekatan “Pre-Ordinate, Fidently, Process “ kriteria yang di gunakan dikembangkan dari karakteristis program dari luar, seperti berdasarkan pandangan secara teori, dari para pelaksana, dan dari pemakai program.

PROSES PENCARIAN

Proses pencarian. Perbedaan kelas sosial membedakan pula pola informasi tentang suatu produk yang didapat oleh masing-masing individu, kelas bawah yang berada didaerah lebih terpencil akan susah mendapatkan informasi tentang suatu barang yang beredar dipasaran sedangkan orang kelas menengah keatas lebih mudah mendapatkan informasi tersebut.

BAHASA SOSIAL

Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat  hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).
Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.

PROSES PEMBELIAN

Dalam proses pembelian, konsumen akan melalui sebuah proses, yaitu :
·         Menganalisa keinginan dan kebutuhan
·         Menilai beberapa sumber
·         Menetapkan tujuan pembelian
·         Mengidentifikasi alternative pembelian
·         Mengambil keputusan untuk membeli
·         Perilaku sesudah pembelian

Tahapan-tahapan pembelian sebagai berikut :
Tahap pertama, kesadaran akan kebutuhan suatu dan ketersediaannya. Seorang konsumen harus tahu bahwa ada kebutuhan atau ada kesempatan yang dapat dilakukan bila dia membeli barang tertentu dan barang tertentu tersebut tersedia di pasar.

Tahap kedua, seorang Konsumen akan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang produk yang akan dibelinya. Konsumen akan mencari informasi suatu produk tentang fitur-fiturnya, harganya, penjualannya, dan juga jaminan dari perusahaan.

Tahap ketiga, maka seorang Konsumen akan merasa suka dan butuh terhadap produk itu secara umum.

Tahap keempat adalah preferensi. “Kenapa saya harus membeli produk merk A, bukan merk B. Kenapa saya harus membeli tipe yang seharga ini bukan seharga itu.” Ini adalah preferensi. Konsumen akan mencocokkan produknya disesuaikan dengan kesukaannya, seleranya, budgetnya dan lainnya. Di tahapan ini konsumen sudah mulai mengerucutkan pada apa yang lebih disukai dibandingkan yang lain.

Tahap kelima adalah membuat keyakinan atau konfirmasi. Setelah konsumen mengerucutkan pada beberapa pilihan, dia akan tambah mantap setelah mendengar penjelasan yang baik dari penjual dan memutuskan untuk membeli.

Tahap keenam, akhirnya konsumen tersebut akan merasa puas atas hasil pembelian yang telah dilakukannya, dan setiap konsumen akan berbeda.

METODE PENELITIAN PEMASARAN UNTUK MENGUKUR KELAS SOSIAL

Metode penelitian kelas social terdiri dari dua jenis, yaitu:
1)     Metode teoritis dan keabsahan. Metode reputasi melibatkan pengajuan kepada orang-orang untuk menentukan peringkat posisi atau presitse orang lain.
2)     Metode reputasi dikembangkan oleh Lloyd Warner, salah satu pelopor didalam studi kelas social di Amerika Serikat. Selanjutnya diperluas Burleigh Gardner dan rekan-rekannya di Deep South dan di Midwest oleh Hollingshead, studi-studi ini juga mencakupi sosiasi atau ukuran sosiometrik yang menghitung jumlah dari sifat kontrak pribadi dari orang didalam hubungan mereka yang informal. Penelitian teoritis memberikan suatu arus data empiris dan konsep yang pokok bagi upaya kita yang sekarnag menghubungkan kelas social dengan konsumsi.
3)     Metode penelitian pemasaran. Para peneliti pemasaran mengukur kelas sosial dengan variable bebas untuk menentukan hubungannya denga variable terkait dariminat akan pemasaran. Metode objektifmemberikan status berdasarkan responden yang memiliki semacam nilai dari variable yang distratifikasikan. Variable yang paling sering digunakan adalah pekerjaan, pendapatan, pendidikan, ukuran dan jenis tempat tinggal, pemilik barang,  dan afiliasi organisasi. Metode objektif dapat dibagi ke dalam metode yang berindeks tunggal dengan mengutamakan pekerjaan sebagi indikator tunggal terhadap pemilihan kelas sosial dan metode yuang berindeks ganda dimana dalam memntukan kedudukan sosial seseorang didasarkan dari berbagai macam variable yang sudah disebut diatas.
4)     Metode subjektif atau pelaporan diri meminta responden untuk menilai diri sendiri berdasarkan kelas sosial. Metode seperti ini, walaupun digunakan sekali-sekali, memiliki nilai terbatas bagi para nalis konsumen karena dua alasan:
-Responden cenderung menilai terlalu tinggi kedudukan sosialnya sendiri
-Responden menjauhi istilah konotatid dari kelas atas dan bawah dan selanjutnya membesar-besarkan ukuran kelas menengah.

SUMBER:


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar